Senin, 13 Mei 2013

bulan rajab



Bulan rajab adalah bulan yang sangat mulia dan agung, penuh barokah dan hikmah, ibadah pada bulan ini dilipatgandakan pahalanya oleh Allah, doa-doa diijabah, dan pintu taubat dibuka lebar-lebar siap menerima siapapun juga yang hendak bertaubat kepada Allah. Seperti diriwayatkan oleh Al imam Ibnu ‘Asakir dari Abu Umamah RA bahwasanya Nabi Muhammad SAW bersabda (yang artinya):
Ada lima malam yang tidak akan ditolak doa-doa di dalamnya, malam pertama bulan rajab, malam pertengahan sya’ban (nisfu sya’ban), malam jumat, malam idul fitri dan malam idul adha”.


Dan cukup kiranya sebagai kemuliaan bulan ini di mana Allah Ta’ala menjadikannya salah satu dari empat bulan yang dinamakan Asyhurul Hurum (bulan yang terhormat). Sebagaimana dalam Al Quran Allah berfirman (yang artinya):
Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (mulya). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu. (QS. At Taubah 36)
Mengenai Asyhurul Hurum ini Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan kepada kita bahwa empat bulan tersebut adalah Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab. Seperti dalam riwayat Bukhori dan Muslim dari sahabat Abu Bakrah RA.

Sahabat Ibnu Abbas RA mengatakan tentang kemulyaan empat bulan ini:
Allah telah mengkhususkan empat bulan, dimana Allah menjadikannya penuh kemulyaan, dosa-dosa di bulan ini lebih besar daripada bulan lainnya, begitu pula amal sholeh dan pahala”.
  
Bulan Rajab adalah bulan taubah, seorang ulama’ ahli hadits Al-Imam Muhammad bin Abdullah Al Jardani Rohimahullah menerangkan dalam kitab hadits Misbahud-dholam bahwa : “Diterangkan dalam kitab-kitab Allah yang terdahulu, orang yang membaca :
 Robbighfirli warhamni watub 'allayya
Dibaca 70 x setiap ba’da isya’ atau waktu pagi dan sore bulan Rajab,
Orang tersebut akan terhindar dari siksaan api neraka (dosa-dosanya diampuni oleh Allah)


Selain istighfar, ibadah yang dianjurkan dilakukan di bulan Rajab adalah berpuasa, karena sudah termasuk dalam keumuman sunnahnya berpuasa pada Al Asyhurul Hurum, sebab Rajab termasuk Al Asyhurul Hurum.




KEUTAMAAN BULAN RAJAB

“Bersabda Rasulullah SAW : “ Sesungguhnya di surga ada sungai yang disebut dengan rajab (isinya) lebih putih dari pada susu, dan lebih manis dari pada madu. Barangsiapa yang berpuasa sunnah satu hari pada bulan Rajab akan diberi minum oleh Allah dari sungai tersebut.” (HR. Imam Baihaqi)

Beberapa hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menunjukkan kelebihan bulan rajab:
  • Hendaklah kamu memuliakan bulan Rajab, niscaya Allah memuliakan kamu dengan seribu kemuliaan di hari Qiamat.
  • Bulan Rajab bulan Allah, bulan Sya’ban bulanku, dan bulan Ramadhan bulan umatku.
  • Kemuliaan Rajab dengan malam Isra’ Mi’rajnya, Sya’ban dengan malam nisfunya dan Ramadhan dengan Lailatul-Qadarnya.
  • Puasa pada awal Rajab, pertengahannya dan pada akhirnya, seperti puasa sebulan pahalanya.
  • Barang siapa yang berpuasa dua hari di bulan Rajab akan mendapat kemuliaan di sisi ALLAH SUBHANAHU WA TA’AALA.”
  • Puasa 3 hari pada bulan Rajab, dijadikan parit yang panjang yang menghalangnya ke neraka (panjangnya setahun perjalanan). 
  • Barang siapa berpuasa tujuh hari dalam bulan ini, maka ditutupkan tujuh pintu neraka Jahanam dan barang siapa berpuasa delapan hari maka akan dibukakan delapan pintu syurga
  • Bulan Rajab Syahrullah (bulan Allah), diampunkan dosa orang-orang yang meminta ampun dan bertaubat kepada-Nya. Puasa dalam bulan Rajab, wajib bagi yang ber puasa itua diampunkan dosa-dosanya yang lalu. Dipelihara Allah umurnya yang tinggal. Terlepas daripada dahaga di akhirat.
Sabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya Rajab adalah bulan ALLAH, Sya’ban adalah bulan aku dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi, keluarga nabi dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan merasa lapar dan haus bagi mereka.”

Satu lagi hadist yang cukup menggetarkan hati, Rasulullah bersabda :
Apa bila datanghari kiamat berserulah malaikat ‘Dimanakah orang orang yang suka menghormati bulan Rajab?’ lalu keluarlah sebuah NUR dan malaikat Jibril dan Mikail ‘Alaihi salam mengikuti Nur itu, serta merta mengikutlah orang orang yang menghormati bulan Rajab, kemudian mereka melewati Sirthatal Mustaqim secepat kilat yang menyambar. Bersujudlah mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’aala karena bersyukur dapat melewati Sirath dengn selamat, lalu Allah Berfirman : “Wahai orang orang yang suka menghormati bulan rajab, angkatlah kepalamu pada hari ini, kamu telah menunaikan sujud dunia pada bulanku, sekarang berangkatlah menuju tempat tempatmu ”
Allah Subhanahu Wa ta’aala.Malaikat Jibril dan Mikail Alaihi Salam memanggil orang orang yang menghormati bulan rajab dengan RAJABIYYUUN…

mengenai riwayat siapa dan dhoif atau tidaknya hadist diatas, Wallahu’alam Bishowab..
Yang Paling penting adalah Inna a’maalu Bin Niiyah.., Niat kita berpuasa, berdzikir, juga bersholawat Nabi, ingin berbuat amal kebajikan se banyak banyaknya, ingin bisa memasuki surgaNya, ingin mendapat Rahmat dan Ridhonya, dan kita berusaha semakin bertambah umur semakin dekat kepada Allah SWT.


Menurut Imam Suyuthi dalam al-Haawi lil Fataawi, hampir semua hadist tentang puasa Rajab tersebut berstatus Dha’if (kurang kuat). Akan tetapi hadits dha’if sebagaimana disepakati Ulama ahli hadits, dapat digunakan untuk memotivasi diri dalam fadhailul A’mal (mengerjakan amal-amal kebajikan), selagi tidak terlalu berat ke-dha’ifan-nya atau tidak ada dalam sanadnya seorang rawi yang suka berdusta atau dituduh suka berdusta.



Ada lagi satu amalan yang hendaknya kita ikuti dari Rasulullah, yaitu berdoa di bulan Rajab sebagaimana telah beliau ajarkan. Dari sahabat Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah Saw jika telah memasuki bulan Rajab beliau banyak berdoa:
Allahumma baarik lana fii Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadhan  (yang artinya : Ya Allah berikanlah keberkahan buat kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami pada bulan Ramadhan).

Minggu, 20 Januari 2013

Clara Sumarwati :Warga Indonesia dan ASEAN Pertama yang Capai Puncak Everest



Clara Sumarwati di Puncak Everest, 1996
Pendaki pertama dari Indonesia yang menginjak puncak Everest pada ketinggian 8.848 meter adalah seorang Clara Sumarwati. Ternyata prestasinya itu juga menjadikan dirinya orang Asia Tenggara yang pertama sampai di puncak Everest, yaitu pada tanggal 26 September 1996. Namanya dan tanggal pencapaiannya tercatat antara lain di buku-buku Everest karya Walt Unsworth (1999), Everest: Expedition to the Ultimate karya Reinhold Messner (1999) dan website EverestHistory.com, sebuah referensi andal akan segala sesuatu yang berkaitan dengan pendakian gunung di dunia.
Kesangsian akan peristiwa bersejarah yang dicatatnya itu datang dari berbagai pihak di tanah air, semata-mata karena dianggap tidak memberi cukup bukti, contohnya seperti foto yang menunjukkan ia memegang bendera yang tertancap di puncak. Namun di berbagai sumber pencatatan dunia, Clara diakui sebagai penakluk puncak Everest ke-836. Masyarakat pendaki gunung internasional pun sudah maklum bahwa Clara adalah orang Indonesia dan juga orang Asia Tenggara pertama yang sampai ke puncak Everest.
Lahir tanggal 6 Juli 1967 di Yogyakarta, anak ke-6 dari delapan putera-puteri pasangan Marcus Mariun dan Ana Suwarti. cita-cita Clara sewaktu kecil adalah menjadi ahli hukum, tetapi ia tidak bisa menolak ketika kakak laki-lakinya menyekolahkannya di Universitas Atmajaya jurusan Psikologi Pendidikan. Saat kuliah ia ingin menjadi pembimbing dan juru konseling di SMU. Tetapi begitu lulus universitas di tahun 1990, haluannya samasekali berubah ketika ia gabung dengan ekspedisi pendakian gunung ke puncak Annapurna IV (7.535 meter) di Nepal. Rekannya, Aryati, berhasil mencatatkan diri sebagai perempuan Asia pertama yang mencapai puncak itu pada tahun 1991. Pada Januari 1993, Clara bersama tiga pendaki puteri Indonesia lainnya menaklukkan puncak Aconcagua (6.959 meter) di pegunungan Andes, Amerika Selatan.
Sebenarnya pendakian Everest tahun 1996 itu bukan ekspedisi Everest yang pertama bagi Clara. Pada tahun 2004, ia bersama lima orang dari tim PPGAD (Perkumpulan Pendaki Gunung Angkatan Darat) berangkat tetapi hanya mampu mencapai ketinggian 7.000 meter karena terhadang kondisi medan yang teramat sulit dan berbahaya di jalur sebelah selatan Pegunungan Himalaya (lazim disebut South Col). Kegagalan mencapai puncak ini justru membuat Clara Sumarwati semakin penasaran dan bercita-cita untuk mengibarkan Merah-Putih di puncak Everest pada 17 Agustus 1995, tepat 50 tahun Indonesia merdeka. Sebanyak 12 perusahaan ia hubungi waktu itu untuk mendapatkan sponsor. Biaya yang ia butuhkan tidak sedikit, mencapai Rp 500 juta, karena memang segitulah biaya yang harus dikeluarkan siapa pun yang ingin menaklukkan Everest waktu itu. Tidak ada jawaban. Menurut Clara, bahkan ada pihak perusahaan yang meragukan kemampuannya sehingga enggan memberi sponsor.
Salah satu pihak yang ia hubungi untuk sponsor adalah Panitia Ulang Tahun Emas Kemerdekaan Republik Indonesia, yang dibawahi Sekretariat Negara. Clara dipanggil menghadap pada bulan Agustus 1995 dan mendapat konfirmasi bahwa Pemerintah bersedia mensponsori ekspedisinya. Sertamerta Clara menjadwal-ulang ekspedisi yang seharusnya memancang bendera Indonesia di tahun 1995. Ia mencanangkan ekspedisi berangkat di tahun berikutnya, pada bulan Juli 1996. Ternyata pengunduran jadwal itu mempunyai makna tersendiri karena pada tahun 1995 itu terjadi badai dahsyat di Himalaya yang menewaskan 208 pendaki dari berbagai negara.
Berikut ini adalah suatu penuturan langsung Clara Sumarwati kepada majalah Gatra di tahun 1996 tentang pengalamannya mulai dari persiapan hingga mencapai puncak Everest.
Secara fisik sebenarnya kami sudah siap,” kata Clara. Kesiapan fisik memang dilatihnya sejak ide pendakian itu muncul di benaknya, pada tahun 2004. Mulai pukul 07.00, ia berlatih lari mengelilingi Stadion Senayan, Jakarta, selama dua jam, di bawah pengawasan Gibang Basuki, anggota Komando Pasukan Khusus berpangkat sersan dua. Kemudian sore hari, ia melatih otot di Pusat Kebugaran Hotel Grand Hyatt, Jalan Thamrin, Jakarta. Sedangkan siang, ia berkeliling keluar-masuk kantor untuk mendapatkan sponsor.
Agar tubuhnya tahan menghadapi hawa dingin dan salju, Clara berendam di kolam renang Senayan, Jakarta. “Karena terlalu sering, sampai-sampai penjaga kolam renang menganjurkan agar kami membeli karcis langganan,” kata Gibang Basuki. Selain itu, sebulan sekali Clara melakukan latihan naik-turun gunung sambil membawa beban. Mulai dari Gunung Gede, Jawa Barat, sampai ke puncak Soekarno di Pegunungan Jayawijaya, Irian Jaya.
Di samping berendam selama dua jam di sebuah kali kecil di Suryakencana, Jawa Barat (ini juga untuk melatih fisik agar tahan terhadap udara dingin), Clara melakukan latihan mendaki dengan kemiringan 900. Di Citatah, Jawa Barat, misalnya, dengan tali, ia naik-turun Gedung Pemadam Kebakaran yang tingginya sekitar 30 meter. Latihan yang biasa disebut rapling atau turun monyet itu juga dilakukan di celah-celah Tebing Singgalang, Padalarang. “Latihan ini yang paling menyeramkan,” kata Clara, yang juga berlatih memanjat tebing dengan jari-jemarinya.
Kenyang menjalani semua latihan berat tadi, barulah Clara bersama Gibang Basuki mengurus izin mendaki. Mengingat misi pendakian solo (tunggal) ini lewat jalur utara, maka surat izinnya dikeluarkan oleh Pemerintah Cina, di Beijing. Dan berkat bantuan seorang warga Australia, mereka berhasil mendapatkan izin dari China Mountain Association (CMA).
Clara di Base Camp Jalur Utara Tibet, 1996.
Langkah Sudah Dilangkahkan
Lalu dengan biaya sebesar US$ 12.000, mereka mengontrak 12 penduduk Tibet, yang akan membawa beban dan tukang masak. Mereka biasa disebut sherpa, berasal dari nama suku Sherpa di Tibet, yang sering naik- turun gunung. Di samping itu, Clara dan Gibang harus menyewa pula seorang petugas Cina dari China Tibet Mountaineering Association (CTMA), yang berperan sebagai penerjemah sekaligus, “Untuk mempermudah prosedur di perbatasan Cina-Tibet,” kata Clara.
Setelah urusan perizinan beres, mereka kembali ke Jakarta melakukan latihan terakhir. Pas 8 Juli 1996, Clara dan Gibang Basuki memulai perjalanan bersejarah itu. Mereka menumpang Kuwait Airlines menuju Frankfurt, Jerman, untuk membeli perlengkapan mendaki. “Masuk di toko perlengkapan pendaki seperti masuk surga,” tutur Clara, yang menghabiskan dana sampai US$ 50.000. Termasuk di antaranya 12 tabung oksigen dan sepatu. Sepuluh hari kemudian mereka menuju Kathmandu.
Bersama pendaki lain di Base Camp.
Selanjutnya Ke Tibet
Di ibukota Nepal, Kathmandu, selain menjemput ke-12 pemanggul beban serta pemandu jalan, Clara dan Gibang melakukan latihan aklimatisasi. Yakni latihan menyesuaikan diri di tempat ketinggian. Mula-mula mereka diterbangkan pada ketinggian 3.000 meter dengan helikopter. Setelah itu, pelan-pelan mendaki sampai puncak Gunung Kalapatar, yang tingginya 5.545 meter. Kemudian turun kembali ke Kathmandu.
Clara di Base Camp III, Jalur Utara Tibet
Perjalanan darat menuju perbatasan tidaklah mudah. Terjadi longsor di jalan-jalan raya, sehingga rombongan Clara harus kembali ke Kathmandu dan istirahat seminggu. Sampai-sampai lima kali mereka harus mengganti kendaraan pengangkut. Baik di Kota Zhangmo maupun Nylam Tim, Nepal, mereka menginap di hotel milik Pemerintah Cina. Kondisi kamarnya kurang memadai. Listrik sering mati, dan airnya yang keruh cuma sesekali mengalir. “Kami makan malam di restoran Cina yang makanannya berminyak,” tutur Gibang Basuki.
Sementara menunggu waktu, mereka mengisi kegiatan dengan mengikuti ziarah ke kuil, adat penduduk Nepal dan Tibet yang diikuti pula para pendaki umumnya. “Di kuil itu banyak tanah liat dibakar, seperti di kasongan Yogya,” kata Clara. Setelah itu mereka pun mengawali petualangan, dan tiba di tempat yang biasa disebut Base Camp. Di tempat setinggi 5.154 meter yang dilengkapi dengan pos dan alat komunikasi ini, Clara melakukan latihan naik turun gunung selama empat hari sambil menunggu kedatangan petugas penerjemah Cina.
Dan sekitar pukul 09.00 waktu setempat, 26 Agustus 1996, Clara memulai langkah yang bersejarah dalam hidupnya. Diiringi 12 pembawa beban, Clara menuju tempat pemberhentian berikutnya. Lokasi ini lazim disebut Camp 1, ditentukan sesuai dengan kemampuan para pendaki mengayun langkah. Untuk Clara, Camp 1 mencapai setinggi 5.500 meter. Di sini rombongan Clara disambut hujan lebat, sehingga mereka harus beristirahat dalam tenda. Paginya, menuju ke Camp 2 pada ketinggian 6.000 meter.

Clara di Base Camp V, ketinggian 7.900 meter.
Uang Jasa Merintis Jalan
Setelah mereka beristirahat secukupnya, perjalanan dilanjutkan ke Camp 3, Advanced Camp. Di Camp 3 ini Clara harus melakukan latihan naik-turun gunung (aklimitasi) selama tiga pekan. Sebab di ketinggian 6.450 meter itu lapisan oksigen mulai berkurang sehingga banyak pendaki yang menderita hipoksia alias pusing karena kekurangan oksigen. Apalagi ia terserang batuk dan sakit tenggorokan karena tak tahan dengan suhu sedingin minus 350C, akibat badai salju. “Sampai-sampai susah bernapas,” tuturnya.
Clara sembuh setelah diberi minum strepsil dan sebutir tablet antibiotik oleh seorang dokter Yogoslavia dari sebuah rombongan Amerika Serikat yang tiba belakangan. Tim pendaki Amerika Serikat dimintai Gibang Basuki tanda jasa.”Berupa barang apa saja bolehlah,” kata Basuki. Sebab tim Amerika itu menggunakan rute – mulai Base Camp sampai Camp 3 – yang dibuat oleh para sherpa dari tim Indonesia.
Bukan karena komersial, melainkan sebagai balas jasa bagi para sherpa yang merintis jalur tersebut. Memang para sherpa inilah yang merintis jalan menuju kamp berikutnya, baru kemudian si pendaki mengikuti dari belakang. Salah seorang di antaranya bernama Ghalzhen yang terkenal lihai. Ia, bersama tiga rekannya, hampir tewas ditimpa longsoran salju (avalanche).
Tim Ceko yang beranggotakan 12 orang itu akhirnya memberi tali, tenda, bahan makanan, serta meminjamkan alat telekomunikasi berupa telepon satelit. Oleh Gibang Basuki, pemberian itu diserahkan kepada Ghalzhen dan 11 anggota pembawa barang lainnya. Sedangkan enam orang tim Afrika, yang juga menggunakan rute Indonesia, menyumbangkan tali dan uang kontan US$ 200. Lalu ada pula sebuah tim lain yang menolak dimintai sumbangan. Belakangan baru diketahui, ternyata mereka cuma mengantongi izin pendakian untuk seminggu. Artinya, ya mereka tidak bakal sampai ke pucuk Everest.
Didampingi empat sherpa (delapan lainnya sudah berangkat lebih dulu), tim Indonesia melanjutkan perjalanan ke Camp 4 yang tingginya 7.069 meter, untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Camp 5, setinggi 7.900 meter. Saat hendak melanjutkan perjalanan ke Camp 6, Gibang Basuki kembali ke Camp 5. Hal ini memang lazim dilakukan sebuah tim pendakian solo (tunggal). Sebab, sebagai pendukung tim, Gibang harus berada di belakang. Bila kondisi memungkinkan, misalnya, persediaan oksigen dan cuaca cukup baik, barulah Gibang menyusul ke kamp berikutnya.
Di Camp 6 ini kemiringan mencapai 80 derajat, sehingga perlu istirahat sejenak meneguk air minum tiap berjalan setengah jam. Gunanya, untuk menghindari batuk dan radang tenggorokan. Di samping itu, di jalur ini banyak terdapat jebakan salju. “Saya sempat terperosok ke jurang,” tutur Clara. Dalam perjalanan dari Camp 5 menuju kamp berikut, kondisinya kurang mendukung. Empasan angin yang sangat kencang dan berkabut memaksa misi pendakian dihentikan beberapa kali. “Air sisa pernapasan di masker saya sampai membeku menjadi es,” Clara bercerita kepada Abdul Latief Siregar dari Gatra.
Salju Sebatas Paha
Alhamdulillah, Clara bersama lima sherpa berhasil mencapai Camp 6 pada pukul 16.00. Di lokasi yang tingginya 8.300 meter inilah Clara dan rombongan beristirahat. Tatkala istirahat itu, Clara yang masih dalam kondisi fit ditawari Kaji, pemimpin sherpa, untuk melanjutkan perjalanan. Menurut ramalan Kaji, cuaca di sekitar kamp cukup bagus. Ditawari begitu, Clara pun tergoda. Setelah dipikir masak- masak, maka diambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan pada pukul 01.00 dini hari, menuju pucuk Dewi Bumi. Waktu itu Clara sempat mengingatkan Kaji agar Gibang Basuki diberitahu rencana mendadak itu. Sekaligus mengajak Gibang agar ikut dalam ekspedisi yang bersejarah itu. Namun, Kaji melarang dengan alasan persediaan oksigen mereka tak akan cukup. Belakangan Gibang mengetahui alasan Kaji itu cuma dibuat-buat. Apa boleh buat, Gibang Basuki yang sebetulnya juga mampu meraih puncak Everest cuma berada di Camp 5.
Clara di Base Camp VI
Jam menunjukkan pukul 01.00, Clara bangun dari tidurnya. Lalu menyantap nasi kering yang tersimpan di rantangnya, dan menenggak segelas teh manis hangat. Setelah itu barulah Clara berangkat menembus kegelapan malam disertai lima sherpa. Ia menuju puncak. Cuaca cukup bersahabat. Tidak berkabut, meski dingin sangat mencucuk. Untuk menghindari frostbite (pembekuan jari-jari tangan dan kaki), Clara mengenakan pakaian rangkap. Mulai dari long zone (sejenis pakaian senam), kaus bertangan pendek dan bertangan panjang, sampai baju hangat, yang kemudian ditutup lagi dengan down jacket yang direkomendasikan untuk suhu minus 40 derajat.
Selain itu Clara Sumarwati juga mengenakan sarung tangan berlapis-lapis. Mulai dari yang tipis, lalu kaus tangan yang direkomendasikan untuk dipakai dalam suhu minus 300C, sampai sarung tangan tebal. Demikian juga kaus kakinya sampai dua rangkap. Bisa dibayangkan betapa berat beban pakaian yang dikenakan para pendaki pada tahun 1920. Tapi kini hal itu bisa dihindari, “Karena bahannya bagus, terasa ringan,” kata Clara.
Perjalanan menuju atap dunia pun dimulai. Itu dilakukan dengan cara travesing atau menyisir sambil mengitar. Para sherpa yang berpengalaman membuat hati Clara jadi tenang. Ghalzen yang membuat jalur, diikuti para sherpa lain seperti Dhawa, Ghalzen Kecil, dan Kaji, sang pimpinan, mengecek keselamatan jalur yang akan digunakan. Barulah Clara berjalan menyusul di belakang.
Clara - Selangkah Lagi Menuju Puncak Everest
Menjelang sampai ke pucuk bumi, Clara dihadang hamparan salju sebatas paha manusia. Pada ketinggian 8.550 meter, hadangan pun makin serius. Sebab, bentuknya lain lagi. Yakni o­nggokan salju raksasa setinggi 10 meter, yang bentuknya seperti pinggul sapi. Untuk melewati gundukan itu, para pendaki memerlukan tangga dan tali. Demikian juga Clara. Dengan tangga yang sudah agak retak setinggi 10 meter dan tali-temali, ia akhirnya melewati hadangan itu.
Menyanyikan Indonesia Raya
Sulit dibayangkan, saya akhirnya dapat melalui gundukan itu,” kata Clara dengan bangga. Maka, ketika jarum jam menunjukkan pukul 11.00 waktu setempat, Clara Sumarwati pun sampai di pucuk Everest. Setelah memandang ke sekeliling dan merasa yakin bahwa ia memang sedang tegak di atap dunia, Clara berkata dalam hati, “Tiba-tiba saya merasa sangat kecil dan rendah.”
Setelah selesai mengucapkan 50 kali doa Salam Maria sambil memegang rosarionya (seperti tasbih), pemeluk Katolik ini menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sambil memegang Sang Merah Putih. Lalu wanita kelahiran Yogyakarta ini berpose memegang majalah Time yang bergambar sampul Presiden Soeharto.
Sementara itu, Gibang Basuki menunggu kabar di Camp 4 dengan cemas. Begitu mendengar kabar keberhasilan Clara dari handy talky di genggamannya, ia terkejut bercampur gembira. “Saya sudah mau marah. Kok lama nggak turun-turun,” ujar sersan dua Koppasus ini. Lalu ia turun ke Camp 3, meminjam peralatan komunikasi tim Ceko, untuk mengabarkan keberhasilan ini ke Indonesia.
Keraguan atas keberhasilan Clara, yang sejak semula menggelayuti hampir seluruh pendaki Indonesia, pun hilang. Seorang putri Indonesia ternyata mampu meraih prestasi tertinggi dunia. Yakni menaklukkan pucuk Gunung Everest dalam waktu 53 hari. Sebuah perkumpulan pendaki gunung Nepal bernama Pasang Lhamu (diambil dari nama seorang pendaki wanita Nepal yang tewas di puncak Himalaya tahun 1993), telah mengatur pertemuan antara Clara dan Menteri Olahraga Nepal.
Sebuah konferensi pers menyambutnya di Kathmandu, sesaat setelah Clara menjejakkan kaki kembali di ibu kota Nepal itu. Sejumlah piagam dan kertas penghargaan diberikan kepadanya. Antara lain, diangkat menjadi anggota kehormatan oleh Nepal Mountaineering Association. Sedangkan China Mountaineering Association (CMA) dan China Tibet Mountaineering Association (CTMA) memberi selembar sertifikat, yang menandakan bahwa Clara Sumarwati adalah salah seorang pendaki yang berhasil mencapai puncak tertinggi di dunia.
Dan sekembalinya di Indonesia, Clara langsung menghadap Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia, Wismoyo Arismunandar. Pada tahun itu juga ia menerima penghargaan Bintang Nararya atas prestasi gemilang yang dicatatnya.

Rabu, 19 Desember 2012

Masa depan ada di tanganmu

orang lain hanya sebagai penonton atas segala yang terjadi dalam hidup karena masa depan bukan diberikan oleh mereka tapi diusahakan oleh diri kita sendiri.

Allah menghendaki kemudahan bagi kita dan kita mengupayakan segalanya di tangan kita. Impikan masa depan yang gemilang. Janganlah puas dengan hal yang biasa, umum, dan rata-rata. Prestasi yang biasa, teman-teman yang biasa, keadaan yang biasa, lingkungan yang biasa. Berusahalah untuk menemukan apa yang membuat kamu unik dan asli. Ingatlah, kamu adalah makhluk yang Allah ciptakan dengan segala kesempurnaan, bahkan ketika kamu merasa kamu biasa-biasa saja.

Perubahan menuju sesuatu yang lebih baik hanya akan kamu dapatkan ketika kamu mengupayakan dengan uasaha dan doa bukan sekedar berpangku tangan menunggu keajaiban.

Situasi apapun bisa kita perbaiki dengan melakukan sesuatu yang berarti. Ketika kita berada pada kondisi tidak beruntung, maka kita akan mampu menjadi si beruntung saat mampu mengupayakan mimpi menjadi kenyataan. Masa depan ada di tanganmu sejauh mana kamu mampu meraihnya dengan keyakinan diri dan berpikir kamu mampu.

Tidak ada seorang pun yang mampu menolong diri kira dari situasi ketidakberuntungan selain diri kita sendiri. Kitalah yang menolong diri kita sendiri. Segeralah meyakini bahwa masa depan diupayakan oleh diri kita, masa depan ada di tangan kita.


Bagaimana mengupayakan bangkit dari keterpurukan

1. Pertebal keyakinan diri untuk bisa bangkit.
2. Pertolongan dan nasihat tidak banyak membantu kecuali kita membantu diri kita sendiri.


"sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-ra'ad : 11)

Egois



Tulisan ini saya ambil dari blog ust. yusuf mansyur.
Prinsip-prinsip yang sudah diterapkan di awal, bisa diberlakukan di urusan lain selain soal egois. Bilamana ditemukan keadaan-keadaan yang membuat kita tidak enak, coba senantiasa berpikir ke dalam, melihat ke dalam, mencari ke dalam. Dikhawatirkan bukan karena orang lain, tetapi kita sendirilah yang mengundang semua hal di luar menjadi “ada”.
Saya contohkan lagi. Ada seseorang yang zalim kepada si A. Tapi si A tidak membalas, entah karena sungkan, takut, atau karena apa. Tapi kemudian Allah hadirkan si B, si C, si D, untuk kita, sebagai bayaran atas perbuatan kita kepada si A.
Ada disinggung istidraj di kuliah twitter terdahulu. Yakni keadaan-keadaan di mana kesenangan begitu banyak, namun maksiat dan kedurhakaan sedang dilakukan oleh kita. Sementara Allah Melihat dan belum menurunkan balasan atau azab buat mereka, memberi waktu kepada mereka, memanjangkan waktu untuk mereka, dan Allah pun masih saja menurunkan rizki untuknya, bahkan kadang membanyakkannya. Maka keadaan itulah yang disebut Istidraj.
“Walaa yahsabannalladziina kafaruu annamaa numlii lahum khoirul li-anfusihim. Innamaa numlii lahum liyazdaaduu itsmaa. Walahum ‘adzaabun ‘adzhiim. Dan janganlah orang-orang kafir mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan untuk mereka, baik untuk mereka. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka itu hanyalah agar dosa mereka bertambah-tambah, dan mereka mendapatkan azab yang menghinakan.” (Qs. Aali ‘Imroon: 178).
Wa-aakhoruuna murjauna li-amrillaahi immaa yu’adzdzibuhum wa-immaa yatuubu ‘alaihim. Wallahu ‘aliimun hakim. Dan ada pula orang yang ditangguhkan sampai ada Keputusan Allah. Adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Qs. At Taubah: 106).
Jangan malah tertawa ketika dibiarkan Allah. Jangan merasa senang Allah belum menurunkan balasan-Nya. Justru harusnya menjadi khawatir. Nanti keburu gede itu balasan Allah, dan ga kuat lagi menanggungnya. Dan sebenernya, balasan Allah di urusan keburukan, harusnya sekecil apapun, janganlah diharapkan. Baik sangkanya kita kepada Allah adalah saat Allah membiarkan kita, memberikan waktu untuk kita, adalah Allah pengen melihat kita ini bertaubat, berhenti dari perbuatan buruk, busuk, kotor, salah, bejat, jelek, dosa, maksiat, lalu mau menebusnya dengan serangkaian amal saleh, amal baik, ibadah, sampe kita diwafatkan Allah.
Berdoalah kepada Allah, bahwa kita-kita ini yang masih hidup, pasti kan akan diwafatkan. Dan kalau diwafatkan, kita pastinya akan dibangkitkan, untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan kita. Berdoalah, supaya Allah menghapus benar seluruh kesalahan kita, dan tidak ditampakan segala kesalahan kita itu di pengadilan hisab nanti.
“Wattaquu yauman turja’uuna ilallaahi. Tsumma tuwaffaa kullu nafsin maa kasabat wa hum laa yudzlamuun. Dan takutlah akan ada satu hari di mana kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang akan dibalas dengan balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak akan dizalimi.” (Qs. al Baqarah: 281).
Untuk Saudara yang ada perlakuan orang yang jelek terhadap Saudara, cobalah pikirkan bagaimana perlakuan Saudara ke Allah dan ke hamba-hamba-Nya yang lain. Pikirin itu. Jangan dipikirin hanya perlakuan orang lain ke Saudara dan apalagi mikirin Perlakuan Allah ke Saudara yang dianggap ga adil lah, jahat lah, buruk lah, hingga yang ada hanya penyesalan, gerutuan, rerasanan, tanpa menyadari kesalahan diri sendiri.
Saudara dikasih mata oleh Allah, tapi melihatnya yang haram-haram terus, dipakenya untuk maksiat terus. Malu lah sama Allah. Udah dikasih mata, koq ya bukan melihat untuk kebaikan. Dikasih mata bukan untuk melihat Quran. Dikasih mata koq ga bisa melihat mereka yang susah. Udah mah emang-emang faktor umur, semua pasti akan berkurang penglihatan matanya. Tapi gimana kalo bukan soal umur saja? Melainkan pengurangan nikmat adalah dari Allah, sebab kita dikenakan azab kecil di dunia ini?
Kita punya motor, patah spionnya. Besi tatakan spion masih utuh, hanya kaca spion dan tempatnya yang jatuh. Kemudian karena lama sejak jatuhnya ga dibener-benerin, akhirnya ujungnya berkarat. Eh eh eh, di kemudian hari kita terjatuh dari motor. Potongan besi bagian ujung, menancap persis di mata sebelah kiri kita. Subhaanallaah dah! Berdarah bukan dari bagian lain! Tapi berdarah dari bagian mata. Masya Allah. Dan mata pun berbalik bola matanya. Bagian depan ke belakang, bagian belakang, ke depan. Astaghfirullah. Rupanya, jatuh pertama kalinya itu spion, adalah tanda-tanda dari Allah. Sedangkan Allah kasih waktu kita supaya memperbaiki diri, menggunakan mata untuk urusan baik-baik. Tapi ternyata kita tidak kunjung baik. Akhirnya ya digituin dah sama Allah.
Inilah secuplik tentang istidraj.
Silahkan Saudara kalau kuat, lawan Allah, tantang Allah, ga usah jalankan apa yang Allah seru, langgar apa-apa yang Allah perintahkan. Dan nikmatilah azab Allah.
Mulai sekarang, ingat-ingat, kalau lagi banyak rizki, banyak kelapangan, sementara hidup deket dengan maksiat, dan sepi dari ibadah, khawatirlah sedang diistidrajkan Allah. Segera bertaubat, jangan sampe terlambat azab sudah membesar.
Nah, kembali pada soal doa, soal egoisme, jangan-jangan kita ini yang egois. Mikirinnya perbuatan orang terus ke kita, dan perlakuan Allah terus ke kita. Bukan mikirin, jangan-jangan kita yang salah, baik ke dia langsung, yang menyakiti kita, atau yang lain yang kita sakiti, hingga Allah hadirkan sosok lain untuk menyakiti kita.
Maka itu, ketika ditanya, doa apa ya yang bisa dipanjatkan tatkala kita berhadapan dengan suami/istri yang egois? Pembahasannya saya panjangkan kali lebar. Supaya bertambah pengetahuan dan peringatan dari saya untuk saya sendiri.
Di dalam rundown atau prinsip doa, ada prinsip istighfar. Prinsip memohon ampun, memuhasabahkan diri. Sebelum meminta kepada Allah. Sebelum berdoa kepada Allah. Kalau Saudara bisa tepat masuk ke jantung hati dan pikiran Saudara ketika berdoa, niscaya kita bisa-bisa berhenti melanjutkan doa dulu untuk sementara, untuk fokus kepada permohonan ampun kepada Alah.
Allah Maha Pengampun. Sebesar apapun dosa kita, Allah memiliki ampunan yang lebih besar dan lebih luas daripada seluruh dosa kita. Allah juga Maha Mengubah Keadaan. Ubah keadaan dengan banyak-banyak minta ampun. Semua keadaan di dalam Genggaman Allah. Semua perubahan di Tangan Allah. Allah Kuasa membolakbalikkan hati dan semua apa yang kita inginkan untuk berubah.
Saya cukup panjang mengupas soal ini sebagiannya di Buku “Temukan Penyebabnya Temukan Jawabannya”. Mudah-mudahan Saudara semua bisa memilikinya.
Insya Allah kita lanjutkan nanti pembahasan ke prinsip berikutnya dalam berdoa, yang ada hubungannya soal egois. Yakni ke prinsip alhamdulillaah. Prinsip memuji Allah, berterima kasih kepada Allah.
Silahkan mengembangkan tulisan ini ke kehidupan Saudara semua, ga hanya di urusan egois saja. Barangkali ada yang berurusan bukan dengan orang yang egois, tapi soal ga dapat-dapat pekerjaan, ga dapat-dapat modal usaha, ga pernah sukses-sukses, ga pernah berhasil berhasil, sakit-sakitan, koq ya rugi terus, koq ya hutang ga pernah kebayar, belum menikah, belum punya anak, dan lain sebagainya.
Makasih ya.
Pelajaran belum usai. Jadi, jangan berhenti belajar. Teruslah belajar.
Oh ya, untuk Saudara yang belum ikutan PatunganUsaha, jangan ampe ga ikut ya. Dengan 10jt, Saudara bisa ikut mewujudkan dan memiliki bisnis hotel dan apartemen yang dibangun bersama saya. Tiap tahun insya Allah dapat return dari penyelenggaraan hotel dan apartemen tersebut. Kisarannya 8% setiap tahunnya. Dan insyaAllah ini lebih besar dah daripada naro di bank, he he he. Di bank kisarannya 4%. Dan 10 tahun ke depan, duit 10jt itu dibalikin mudah-mudahan dah bisa dikembalikan 100%. Kalau belum bisa mencapai 100% di tahun ke-10, ya mudah-mudahan di tahun ke-12 bisa kembali, sementara returnnya tetap dapat di tahun ke-11 dan ke-12. Bila belum juga, ya kita panjangin pengembalian sampe 15 tahun, sementara bagi hasilnya tetap dapat sampe tahun ke-15 tsb. Koq bisa ya? Ya bisa, sebab selama hotel dan apartemen itu insya Allah masih berdiri dan beroperasi dengan izin Allah, ya dapat terus bagi hasilnya. Bahkan setelah dipulangkan modalnya pun, masih terus dapat bagi hasilnya bila hotel dan apartemen masih beroperasi.
Bagaimana jika ga kembali kembali modal? He he, ya dijual aja tuh hotel dan apartemennya. Pasti insya Allah sudah akan naik koq assetnya. Masa iya, tanah dan hotel deket bandara Soekarno Hatta Jakarta, ga bertambah-tambah harganya? Iya kan? Dibagi-bagi dah. Berapa harga jualnya, segitu yang dibagi setelah dipotong pengeluarabn-pengeluaran.
Insya Allah aman dah. Dan mudah-mudahan masih dapat berbagai kelebihan dari bisnis halal ini. Sebab hotel ini didedikasikan salah satunya untuk melayani jamaah haji dan umrah sepanjang tahun yang akan berangkat menunaikan ibadah haji dan umrah ke tanah suci. Mudah-mudahan dapat dah pahalanya.



Pelajaran tentang egois ini bener-bener sengaja saya lebarin, supaya bisa ditemplate di urusan lain. bukan saja ketika menghadapi suami atau istri yang egois. Tapi di semua urusan.
Saudara misalnya yang berdoa pengen punya jodoh, ya sama aja prinsipnya. Shalawat dulu. Syukur-syukur “shalawat pengantar” doanya jangan 1-2x saja. tapi kirimin Rasul shalawat yang banyak. Disebut banyak itu 100 shalawat dah tiap-tiap hari. Atau dilebihkan. Kemudian banyak-banyak istighfar. Siapa tahu sebab Saudara tidak shalat, maka Saudara dijauhkan dari rizki berupa jodoh. Shalat kan terkorelasi banget-banget sama rizki. Kitanya aja yang ga merasa sedang dijauhkan rizki oleh Allah. Sebab barangkali ga paham. Atau ga berasa. Bila ada yang tidak shalat, tapi rizkinya bagus, ya jangan ngiri juga. Tiap-tiap orang beda-beda “hukuman-Nya”, “azab-Nya”, “keputusan-Nya”. Atau ya barangkali bukan azab, bukan hukuman, tapi emang beda rizkinya.
Misalkan, ada orang yang dibuat gampang sekali punya pekerjaan. Tapi ga dapat rizki soal kesehatan. Ada yang sehat banget, tapi sulit soal pekerjaan. Ada yang kaya, tapi ga punya anak. Ada yang punya anak, tapi banyak hutang. Macem-macem dah. Wong sejatinya kan semua hidup ini ya ujian. Musahabah saja. Jika karena perbuatan kita, ya itulah yang dimaksud di artikel ke-II yang lalu. Insya Allah ujian itu milik Allah. Ada yang bener-bener ujiannya adalah soal jodoh, sungguhpun dia ga berbuat dosa. Bener-bener Allah aja yang kepengen jadi Kekasihnya. Seperti Maryam, perempuan suci, yang banyak ibadahnya, ga ada dosanya. Ya Maryam ga punya juga jodoh. Ga ada suami. Tapi Allah punya maksud kan? Yakni Maryam menjadi ibu dari Nabiyallaah Isa.
Namun sebagai manusia biasa, agaknya memang banyak-banyak muhasabah (introspeksi diri). Saudara yang dimudahkan Allah pekerjaan, tapi akhirnya ga cukup-cukup, ya mestinya ketika minta dicukupkan rizki, prinsip istighfar dikedepankan. Cari tau kekurangan diri dan kekurangan ibadah. Jika ditemukan, benahin. Insya Allah rizki bakal dicukupkan. Saudara yang anaknya buandel, jangan hanya berdoa saja. Tapi koreksi diri. Siapa tahu persoalannya bukan di anak. Tapi di diri Saudara sendiri.
Cari juga artikel-artikel lainnya ya. Supaya sedikit lengkap dan komprehensif.
Di prinsip berikutnya, prinsip alhamdulillaah, trnyata Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita banyak bersyukur dan jadi tenang karena banyak berpikir positif.
Allah ga suka kita mengeluh. Prinsip istighfar adalah prinsip ketawadhuan, kerendahhatian di hadapan Allah. Tapi bukan ajang menghukum diri. Agak tipis. Supaya bisa menatap masa depan dengan benar, dengan memohon ampun dan menyucikan diri. Namun dengan prinsip istighfar Allah tidak menghendaki kita menyalahkan diri sendiri sehingga tidak bangun-bangun. Karena itu dirangkailah dengan prinsip alhamdulillaah. Supaya kembali ceria. Sungguhpun kita meminta untuk yang belom kita nikmati, tapi Allah mengajak dulu kita untuk melihat apa yang sudah Allah beri. Prinsip alhamdulillaah ini ada sebelum kita mengucapkan doa yang kita inginkan dari Allah. Artinya, alhamdulillaah dulu sebelom doa.
Bahkan nanti, istighfar, alhamdulillaah, dan shalawat, diulang lagi setelah doa kita baca.
Begini nih komposisinya:
Shalawat — istighfar —- hamdalah — konten doa yang mau dipanjatkan – lalu shalawat lagi, istighfar lagi, dan hamdalah lagi.
Banyak di antara kita yang tidak mengetahui, bahwa dengan berpikir positif, sesungguhnya akan membawa juga kepada ketenangan. Dan jika sudah tenang, maka sesungguhnya, apa yang disebut masalah oleh kita, ga ada lagi masalah. Sebab fokus juga udah bukan lagi kepada apa yang kurang. Melainkan kepada apa yang sudah Allah berikan.
Ketika saya ingin meminta tolong Allah untuk menyelesaikan hutang saya, saya diajarkan Allah bershalawat dulu. Kirim-kirim doa. Ga tanggung-tanggung. Yang didoakan adalah Rasulullah. Ya, dengan shalawat, kita sesungguhnya mendoakan Rasul. Dan kalau doa itu kan kembali lagi doa kepada yang mendoakan. Itu artinya apa? Kalau kita mendoakan Rasul, maka doa kepada Rasul itu yang kembali kepada kita. Masya Allah kan? Wajar jika kemudian Allah dan Rasul-Nya mengatakan bahwa siapa saja yang bershalawat, maka Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kembali untuknya. Subhaanallaah.
Saya punya anak pernah sakit. Dirawat di rumah sakit. Di antara yang saya lakukan, jika menjenguk anak, dan mendoakan anak, saya keliling dari satu tempat tidur ke tempat tidur yang lain, dari “kawan-kawan” anak saya sekamar. Saya keliling dulu. Saya doakan anak-anak yang sama-sama sakit. Dan bahkan keliling kamar yang lain. izin sama suster dan dokter jaga. Supaya ga dicurigai, he he he he. Kenapa? Sebab saya yakin, tatkala saya mendoakan anak orang lain, maka doa itu kembali untuk anak saya.
Jika saudara kepengen punya jodoh, doakan yang lain. jika saudara pengen anaknya saleh, doakan anak-anak yang laen. Kembali semuanya untuk yang mendoakan apa yang menjadi doa. Begitu juga kembali semua keluhan kepada yang mengeluh itu.
Nah, di urusan shalawat, kita ini mendoakan Rasulullah. Dan doa untuk Rasul itu kembali lagi kepada kita, dan bener-bener ga tanggung-tanggung. Kembalinya langsung dari Allah dan para malaikat-Nya. Amazing!
Sedikit menambah luas pembahasan, karena itu jangan pelit-pelit bershalawat. Jangan hanya Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad. Jangan sampe segitu doang. Kembalinya “hanya” untuk kita sendiri. Padahal kan kita pengen juga buat istri kita, suaminya ibu semua, orang-orang kita, anak-anak kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita… karena itu, tambahin. Allaahumma shallii ‘alaa Sayyidinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi. … Dan juga untuk semua keluarga Nabi… Keluarga menunjukkan semua yang disebut sebagai keluarga. Nah, ketika Allah mengembalikan shalawat ini, dan para malaikat mengembalikan shalawat ini, juga berlaku jadinya untuk keluarga kita. Kalau perlu, tambahin dengan: … wa azwaajihi… dan istri-istrinya Rasul… wa dzurriyyatihi… dan keturunan-keturunan Rasul… wa ash-haabihi… dan semua sahabatnya Rasul… wa ummatihi ajma’iin… dan semua ummatnya Rasul. Dan karena itu pula saya menyenangi membaca shalawat Ibrohimiyah yang dipakai di dalam shalat di tahiyyah akhir. Sebab apa? Sebab saya ikut menyebut Nabi Ibrahim. Seringnya menyebut Nabi Ibrahim, sebagai juga doa supaya Allah kemudian mempertemukan Nabi Ibrahim dengan kita semua, dan menempatkan kita satu surga bersama Nabi Ibrahim dan seluruh keluarga dan keturunannya.
Ok, ok, ok, pembahasannya melebar ya?
He he he, ga apa-apa. Cara nulisnya juga lompat-lompat. Belok-belok. Tapi ya insya Allah balik lagi.
Sehabis prinsip shalawat, prinsip istighfar.
Setelah saya yang kepengen membayar hutang saya, bershalawat, saya lalu beristighfar. Saya usahakan saya ga egois, he he he, sesuai pembahasan. Saya lebih memilih istighfar dulu. Kenapa juga saya jadi berhutang? Lah lah lah, setelah istighfar saya malah menemukan diri ini pantas berhutang. Shalat berantakan, ga ada berjamaahnya, ga ada ke masjidnya, ga ada sunnah-sunnahnya. Zikir ya kurangl. Baca Qur’an ya kurang. Bersedekah ya kurang. Semuanya serba kurang. Jika azab Allah dijatuhkan, jika hukuman dijatuhkan, jika peringatan dijatuhkan, di urusan hutang, yakni saya jadi berhutang, ya saya malah alhamdulillaah. Beneran. Saya jadi alhamdulillaah sendiri. Buat saya, alhamdulillaah Allah masih sayang sama saya. Alhamdulillaah mudah-mudahan semua kesulitan jadi pelebur dosa. Alhamdulillaah mudah-mudahan menjadi jalan bagi saya buat memperbaiki diri. Momentum untuk memperbaiki ibadah juga. Berhutang, menjadi berkah buat saya. Menjadikan saya inget sama Allah. Sepenuh-penuhnya hutang jadi saya titipkan kepada Allah, sementara saya memperbaiki diri dan ibadah. Hasilnya cukup ajaib. Saya sudah menulis ini juga jadi buku. Berpikir besar bertindak besar. Berpikir positif bertindak positif. Ala Yusuf Mansur. Cari aja nih buku.
Apa yang ingin saya katakan, ternyata sebelum nyampe ke konten doa, kalo tahapannya bener, istighfarnya bener, ga asal sebut. Alhamdulillaahnya bener, ga asal sebut. Maka insya Allah kita bakal dikasih hati yang ridho banget dengan segala apa yang terjadi.
Untuk urusan egois yang dijadikan bantalan pembahasan inti, ya terapkan saja. Jika sebelumnya kita ini fokusnya hanya ke perlakuan orang kepada kita, kini fokusnya lebih ke perlakuan kita kepada orang lain, dan juga perlakuan kita kepada Allah.

Selasa, 18 Desember 2012

5 CM ( KEKUATAN KEYAKINAN DAN MIMPI )


sebenarnya sudah lama sekali novel ini diterbitkan,dari tahun 2007,karna saya memang orang yang ga terlalu suka baca buku yang terlalu tebal, jadi saya cuma ambil intisari-nya saja, saya pun membahas ini karna teman saya di facebook yang membuat notes tentang ini, tq miss VJ…hehehe. saya posting ini karna saya termasuk orang yang mempunyai pandangan sama akan keyakinan dan mimpi. so enjoy the power of your dreams guys…

5 cm

Taruh mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yg kamu mau kejar
Kamu taruh di sini jangan menempel di kening.
Biarkan
dia
menggantung
mengambang
5 centimeter
di depan kening kamu
Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu.
Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa.
Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu NGGAK BISA menyerah.
Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apa pun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri
Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.
Dan
sehabis itu yang kamu perlu
Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,
tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,
lapisan tekad yg seribu kali lebih keras dari bajaĆ¢€¦
Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanyaĆ¢€¦

Serta mulut yang akan selalu berdoa
( quoted from 5cm: Donny Dhirgantoro )
saya sempatkan gugling untuk mencari beberapa kata-kata inspirasi lainnya di dalam novel ini. enjoy this quote guys :
‘kalo lo yakin sama sesuatu , lo taroh itu di sini (kening) , abis itu lo kerja keras .. semampu lo’
‘kata Socrates : orang yg paling bijaksana adalah orang yg mengetahui bahwa dirinya tidak tau’
‘aku berpikir maka aku ada’
‘cinta nggak kenal waktu’
‘apa yg lo mau , lo kejar aja . taruh di kepala lo terus , jgn sampai lepas’
‘laki-laki nggak pernah boleh nyesel’
‘kalo emang buat bener-bener dan udah sayang , susah bgt bagi laki-laki untuk menyatakan perasaannya’
‘sang dosen bertanya pada dia “kamu SD berapa taun nak ?” . Dia pun menjawab “6 pak . emang kenapa ?” . “kalo kamu menyelesaikan kuliah kamu enam taun , berarti otak kamu , otak anak SD ..” kata dosennya’
‘sekarang taruh kata BISA itu disini , dosennya berkata sambil menunjuk jidatnya’
‘kalo kamu mau menulis , ya tulis aja , jgn pernah mikir . langsung menulis aja jangan pake mikir’
‘emosi gak bisa ditolak , cuma bisa dikendalikan , makanya kita perlu punya EQ juga , bukan hanya IQ’
‘jangan percaya sama hoki . apa yg kamu raih bkn karna kamu hoki , tapi kerja keras kamu slama ini yg telah kamu tanam dengan terus tekun dan pantang menyerah dalam menjalankannya .’
‘kalo kita bisa menganggap kritik itu bukan suatu serangan , tapi saran , kita pasti akan tambah yakin’
‘jangan pernah menganggap kritik itu suatu proses kemunduran atau serangan . kalo lo d kritik , buat cetak biru di pikiran lo . kalo kritik itu adalah pengorbanan dari seseorang yg mungkin telah mengorbankan rasa ga enaknya sama kita , entah sebagai seorang teman atau rekan kerja , semata-mata untuk apa ? hanya untuk membuat diri kita lebih baik . itu aja..’
‘manusia mendapatkan sesuatu dari manusia lain . manusia melepaskan sesuatu dari manusia lain . manusia menjadi manusia karna manusia lain , atau mungkin ada juga manusia yg menjadi manusia kembali karna manusia lain’
‘sebuah negara tidak akan pernah kekurangan seorang pemimpin apabila anak mudanya sering bertualang di hutan , gunung dan lautan’
‘kaki pegel sih biasa , asal jangan tekad yg pegel’
‘kebanyakan orang-orang besar emang punya tekad tinggi buat cita-citanya’
‘kalo kita mau , sebenarnya kita bisa raih apa aja yg jadi mimpi-mimpi kita’
‘kebahagiaan sejati itu sebenarnya ada di hati kita masing-masing’
‘manusia internal adalah manusia yg beranggapan bahwa dirinyalah yg harus mengatur keadaan , bukan dirinya yg d atur oleh keadaan’
‘kita jangan sampai mau diatur oleh keadaan , kalo bisa kita yg mengatur . kita harus selalu jadi kalimat aktif selalu pakai awalan me- , bukan kalimat pasif dengan awalan di-’
‘engga pernah ada manusia yg kalah , cuma pelajarannya aja mungkin agak berat dibanding yg lain’
‘jadi apapun itu , cobaan , kekalahan , kegagalan , tidak akan menjadi sesuatu yg buruk . tapi tergantung bagaimana kita bersikap , tergantung bagaimana kita menyikapinya’
‘kehidupan adalah 10% yg terjadi pada dirimu dan 90% sisanya adalah bagaimana kamu menghadapinya’
‘orang-orang berjiwa besar akan slalu menghadapi perang besar dengan orang-orang berpikiran rendah dan pendek’
‘sesuatu yg pasti di dunia ini adalah ketidakpastian’
‘manusia yg nggak percaya sama Tuhan , sama aja dengan manusia yg nggak punya mimpi . cuma seonggok daging yg punya nama , bisa jalan dan bisa berbicara’
‘sebaik-baiknya manusia adalah manusia yg bisa bermanfaat bagi orang lain’
‘karena tidak ada orang yg meninggal tp masih meninggalkan bekas yg tak pernah hilang dan sangat berarti di hati , kecuali seorang pahlawan’
‘jadi orang yg bisa membuat napas orang lain menjadi sedikit lebih lega karena kehadiran kita di situ .. karena ada kita di situ’
‘kalo kita bilang nggak mau nyerah , berarti ada kemungkinan kita mau nyerah . tp kalo lo udah bilang lo nggak bisa nyerah sepertinya itu kata terakhir’
‘yg bisa dilakukan seorang makhluk bernama manusia terhadap mimpi-mimpi dan keyakinannya adalah mereka hanya tinggal mempercayainya’
( taken from 5 cm novel )